welcome to my home

I want all of you to feel just like home whenever you enter my page, so enjoy your 'feels like home' in here and free to drop comments

Jalan-jalan 10 hari – Why Not (part3)

Jun 8, 2009



Akhirnya, Nyemplung Yuukks… Go Deeper into Thai!!


At last, nyemplung juga… that was my first time, but I considered myself quite gud :) the coral, the fish, they are beautiful… but that made me even missed Bunaken more and more…

Michail, our Canadian-born underwater photographer, was swimming among the snorkels to get their shoots. I noticed he got me twice. We chatted when I got on board, he’s very nice and he promised to look for me at the hotel, so as we wanna keep in touch. Well practically, he’s the only one in-charge on board whose language I am familiar with (we both speak Eng & French).

So then at almost noon, we’re taken back to Koh Nangyuan for lunch and another sightseeing, plus more snorkeling, hihihi… the beach is beautiful; this cup-liked island is almost as famous as Phuket.

Makan siang disajikan secara buffet di sebuah persinggahan terbuka berlantai kayu yang di kiri kanan-nya diapit oleh toko souvenir dan pos Lomprayah. Untung queue-nya nggak seribet cari tempat duduk di perahu biarpun ada banyak orang di sana yang aku yakin kelaparan (sangat) kayak aku .

After lunch, Ka Angga dan Bang Ali kembali melanjutkan ‘misi’ penjelajahannya… snorkeling laageee… aku dan Dian menyibukkan diri dengan foto-foto sana-sini.

Di sisi kanan-kiri pulau terdapat susunan batuan tinggi, aku terpaksa menahan diri untuk tidak memanjat karena Dian takut ketinggian, akhirnya kami memutuskan berfoto ria di sebuah cottage yang nangkring dengan indahnya di antara bebatuan…

Dari sana kami mensejajari bebatuan besar di pinggir pantai. Dan di sinilah insiden itu terjadi, inisiatif berfoto di atas bebatuan itu ternyata not so cool at all… ketika turun permukaan batuan yang licin oleh selimut lumut aku kehilangan keseimbangan dan terpleset ke dalam air….

AARRGGGHHH!! Telapak tangan dan kakiku berdarah karena menahan bobot tubuhku agar tidak tercebur seluruhnya ke dalam air. Dian segera membawaku ketepian.

Di bibir pantai dekat kami berada seorang perempuan bule juga sedang mengusap telapak kakinya yang berdarah. Aku menyapanya,

“… and where did u get that?” she mumbled about sharp, stranded rocks on the beach. She saw me also bleeding and offered me her tissue.

“Thanks. Whatta friendly beach, hu?” I tried to dig her smile.

She giggled, “You still have it! The bleeding doesn’t stop you… Nice,”

Then somebody who looked like her guide tour approached her and offered his help. “See ya!” she waived her hands to us before moving towards the sandy part of the beach.

I was still struggling to stop the bleeding. Then I thought, the heck, I am gonna push it!

Jalan terpincang-pincang ternyata nggak mudah… dasar narsis, tetap aja di suasana seperti itu kami foto-foto ;p
Setelah puas foto-foto di tiap sudut pulau, huehehehe… kami segera kembali ke arah persinggahan tadi sembari cari tempat berteduh dari sengatan matahari. It’s hot and really hot… you know-lah :)

Di salah satu bangku bangunan kayu yang di tata untuk tempat kami lunch buffet barusan, Bang Ali melambai-lambaikan tangannya memanggil. Aku, Dian dan Ka Angga menghampiri… tak lama kami sudah kembali dengan guyonan dubbing (me-lagak-kan orang-orang di sekitar kita untuk lucu-lucuan).

“… Haus ah, mo beli jus gitu…” Bang Ali tampak merogoh sakunya mencari dompet. Lalu ke dalam tas koper-nya yang setia menemani bahkan hingga trip ke pulau-pulau ini. “Ko nggak ada ya?” Ia bergumam sendiri.
Tak lama berselang, kami bertiga sudah repot dengan pencarian dompet Bang Ali yang tiba-tiba raib!

“… Udah bro! Palingan ketinggalan di hotel…” seru Ka Angga menengahi. Aku dan Dian mengamini.

(Suer aja, kawan-kawan… melihat kondisi kamar Ka Angga dan Bang Ali yang ditinggalkan ketika akan berangkat tour pagi ini was worst than any plane crash I have ever watched reported on television, hihihi… I was thinking how we’re goin to find the wallet in there…)

Niatan beli jus pun tertunda karena waktu kepulangan kami ke Koh Samui dengan jet boat Lomprayah Tour Service sudah tiba. Kami pun segera berbaris bak bebek (karena nggak rapi jali) untuk kemudian di-absen sebelum beriringan menuju ke jet boat bernuansa putih-biru yang sudah parkir dengan manisnya di dermaga kecil Koh Nangyuan.

Kami yang kelelahan yet very excited able to experience this trip were still spending, kali ini foto-foto underwater waktu snorkeling tadi, each costs us about 350 Bath.

Aku menyempatkan tidur sambil sms-an dengan you-know-who.

Sesampainya di darat, kami disambut dengan souvenir pajangan dengan (lagi-lagi) foto kami ketika hendak berangkat menaiki jet boat Lomprayah sebagai pemikatnya. Another spending for about 1000 Bath.

Akhirnya tiba juga di ‘hotel sweet hotel’, hihihi… sayang beribu sayang, dompet Bang Ali memang melayang, bahkan ada laporan penggunaan credit card ketika Ka Angga dan Bang Ali mencoba mengkonfirmasikan kehilangan ke layanan call banking kartu tersebut .

Selepas maghrib, kami mengadakan meeting dadakan di kamar (kamar Aku dan Dian lebih tepatnya), untuk berembug rencana kami selanjutnya.

We have decided that we can’t go to Phuket and spend another night there with Bang Ali’s wallet missing! We’re due to pay our hotel and motorbike rent yet we still have a long way to go to Bangkok – plus couple days round trip there… we thought it was the best option that we continue the trip to Bangkok and spend the rest of the trip there.

After dinner we booked a jetty + bus ride to Bangkok, in total they charged us 2800 Bath. We’re to go in the afternoon; a driver will pick us up from the hotel to the Nathon Pier.

Diselingi dentaman house-music aku berpikir keras, jawaban dari host di Bkk belum datang juga, I can’t rely on Rino’s apt, coz there are four of us coming… the last and least expected option would be staying at another hotel – this will reduce more green bucks in our pocket not that we have plenty. I forced myself to sleep… Dian di sebelahku sudah mengigau, entah mimpi apa… (pastinya bukan ketemu dompet Bang Ali kan, yan?)



Hari 5 (28/4) Pagi harinya, aku dan Dian segera mengepak barang dan mencari ganjalan untuk perut yang sudah meronta, penjelajahan di awal hari bertumpu di sebuah mini market ujung jalan, tidak banyak pilihan selain mie kemasan dan porridge – yang kesemuanya pasti ada flavor sapi kate-nya, jadi deh kudu hati-hati … sekembalinya dari mini market, Dian dan aku mencoba menikmati sarapan dan ketenangan hari terakhir di lantai 4 kamar kami di Moby Dick.

Sejauh ini masih belum terdengar kegaduhan dari kamar kedua bodyguard kami di lantai 3.

Waktu sudah menunjukkan jam10 ketika Bang Ali dan Ka Angga masuk ke kamar, kami bersama-sama menyodorkan sisa uang masing-masing untuk pembayaran hotel (2 nights) dan motorbike rent (2 days) yang totalnya 3550 Bath.

Selesai membereskan semua urusan, Dian and Ka Angga were busied looking for cheap flight to take us back from Bangkok to KL – since train ride is not an option anymore for we don’t have any money and can’t risk taking another trip to Penang…. Dibantu Hatta dari Jakarta untuk booking order and payment – all the process went well .

Kami semua berkutat dengan pikiran masing-masing. Bang Ali masih saja mangutuki bagaimana bisa kehilangan dompet dengan segala kartu berharga-nya itu. Ka Angga the poke face selalu mencoba menyegarkan suasana. Aku dan Dian hanya bisa planga-plongo mengikuti arus yang suka berubah-ubah tiap waktunya ini.

Kami dijemput dengan mini van ke Nathon Pier, di jalan ternyata driver kami mengambil seorang penumpang lagi… bule berkebangsaan Inggris! The guys know I am into bules – jadilah aku digoda abis-abisan untuk ‘beramah-tamah’ dengan si bule yang setelah berkenalan aku tahu bernama Tom (dia hendak berangkat ke Phuket terlebih dahulu sebelum ke Bangkok menemui pacarnya, yaiks!).

Panasnya siang bolong menusuk, setibanya di Nathon Pier kami masih harus menunggu 30 menit sebelum jetty tiba dan memberangkatkan kami ke Chumpon Pier, Surat Thani. Ruang tunggu yang tadinya sepi itu kedatangan lima orang pelancong… kami berempat dan bule Inggris itu.

Barang-barang kami tidak banyak berlipat ganda, hanya memang pengalaman kepanasan dan kehausan di perjalanan membuat aku dan Dian berinisiatif men-stock minum kemasan dan sedikit makanan.

Lapar? Sudah pasti… tapi cari makan di mana? Lagi-lagi kami harus menahan lapar hingga sampai ke tempat tujuan kami berikutnya, Surat Thani.

Di kejauhan, sebuah jetty merapat ke dermaga kecil Nathon Pier.

Ruang tunggu sudah hampir sesak dengan orang, untungnya ruang tunggu ini hanyalah sebuah bangunan terbuka dengan empat pilar layaknya mini terminal.

Ada seorang laki-laki berkebangsaan Thailand; satu keluarga dengan ayah bule dan ibu Thailand serta seorang anak perempuan yang lucu plus her male-nanny (yang kayaknya masih saudara si ibu); seorang bule (yang kayaknya kenalan si ayah); dua orang bule lagi dengan tas backpack and us (of course with that Brit bule guy).
The jetty was half-empty, even after we’re inside… perhaps the rest of the passengers were in the VIPs. Beberapa gals were seen sun bathing di sisi depan geladak kapal. Sementara di bagian belakang kapal penuh bertumpuk tas-tas para penumpangnya.

After couple shots inside the dock, kami memutuskan sightseeing di geladak, lumayan dapet pemandangan cihuiy ;p

Ternyata sodara-sodara, Chumpon Pier itu nggak sampai 2 jam dari Koh Samui, walaaahhh… hebohlah kami keluar dari Jetty menuju ke coach bus yang akan mengantar kami ke berbagai tujuan; dari mulai yang mau ke Bangkok, ke Phuket, dll… you name it-lah!

Jalan-jalan 10 hari – Why Not (Part2)

May 22, 2009



Journey Continues… Deg-degan juga neh!


Kami tiba di terminal Bas Pasar Rakyat hampir jam 7 malam, segera aku mengabari orang rumah Wisma kalau kami sudah kembali dari Genting.

Sesampainya kembali di Wisma, kami segera bersiap-siap karena kami akan berangkat menuju Hat Yai jam 9.30 malam ini menggunakan Konsortium Bas Ekspres Semenanjung (nah, ini dia si 1st class). Makan malam terakhir di Wisma, sempat deg-degan membayangkan kami, aku terutama akan memulai perjalanan yang sebenarnya, as first-timer there’s always this anxiety tapi aku pikir wajar ini tokh sama halnya yang aku alami dulu ketika memulai perjalanan di dalam negeri.

Pak Nanto, the amazing driver, melepas kami di terminal Bas Pasar Rakyat.

Pemilik travel Konsortium Bas Ekspres yang telah banyak membantu kami itu dipanggil Uncle Solo (katanya, orang Indonesia pasti familiar dengan namanya itu, yes indeed…). Begitu melihat kami datang, ia menyambut kami (lagi-lagi) dengan bekal penganan dan air minum – kami sempat risih karena semakin banyak pula bawaan kami karenanya but we will regret it later on our way.

Kami segera ditunjukkan sebuah bas yang mirip dengan bas tingkat, berwarna merah dan terlihat sangat nyaman. Benar saja yang Uncle Solo gembar-gemborkan siang tadi, dengan kapasitas 18 seat saja kendaraan, it’s reclining seat with XL space dilengkapi dengan TV monitor serta remote player-nya (double wow!), and of course a blanket (what can u expect from a nite-bus); harga 60 RM nampak sepantasnya.

Kami masih punya waktu sebelum berangkat, sedikit foto-foto di Terminal Bas Pasar Rakyat waktu malam boleh kan? ;)

Bas meluncur lewat sedikit dari jam 9.30, dan sebelum lepas dari KL kami sempat mampir di Terminal Bas Purudaya untuk mengambil penumpang lain. Kami meninggalkan hiruk-pikuk malam minggu kota KL dan waktu menunjukkan jam 10 malam – wwhhoooaaamm…

Hari 3 (26/4) Kami sempat berhenti beberapa kali, seingatku jam 2 pagi kami dibangunkan di sebuah terminal, dan kondektur bas secara kolektif mengumpulkan passport kami, selama di sana kami bisa ke toilet atau memesan makanan karena tempat kami berhenti mirip terminal pemberhentian yang juga ada di Indonesia. Kami di sana hampir 20 menitan. Ketika akan berangkat kembali kondektur bas mengembalikan passport kami beserta permit form yang neatly typed!

Saran1: jangan langsung terpesona, segeralah cek kebenaran data yang dicantumkan, pada kasusku dan Dian, dengan passport Indonesia kami tertulis sebagai warga negara Malaysia – bisa bahaya di perbatasan nanti.

Saran2: di terminal itu, jika ingin ke toilet jangan ditahan ya... di perbatasan nanti juga ada toilet umum, tapi nggak jamin kebersihannya (dan keharuman bau-nya)

Saran3: sisihkan uang kecil untuk biaya tak terduga di jalan, misal: ya ke toilet lah…

Perjalanan ke perbatasan menurut keterangan kondektur bas masih 2 jam lagi, so I decided to continue my dream – yang jelas bukan soal Bukan Cinta Biasa yang tadi ditonton Dian ya ;p

Sesampai di Changloon, perbatasan Malaysia, kami diminta turun dari bas dan mengantri di loket. Ada banyak sekali bas yang mengantri, termasuk kendaraan pribadi. Masih dalam keadaan mengantuk aku mengecek tas pinggangku (benda itu tidak pernah lepas, kecuali ketika tidur dan mandi tentunya, karena di sanalah aku menyimpan my most important stuffs), mengeluarkan passport dan memastikan surat-suratnya lengkap.

Petugas di balik bilik itu sempat mengajukan beberapa pertanyaan, mungkin hendak basa-basi, aku menanggapinya dengan ramah meski masih digelayuti kantuk, hey… you got nothing to lose for being polite!

Selepasnya kami segera kembali masuk ke dalam bas yang sudah mengantri di depan gerbang pintu perbatasan.
Tidak begitu lama berjalan, kami tiba di Sadao, perbatasan Thailand. Lagi-lagi kami harus turun dari bas, namun kali ini kami diminta membawa barang-barang bawaan kami (I mean all). I was so excited, aku lihat teman-teman juga sangat antusias, akhirnya pagi datang dan kami bisa melihat dengan jelas muka-muka orang Thai dan kami memang telah tiba di Thailand – just one step closer to where we’re heading.

Kesalahan pertama: malu bertanya sesat di jalan, kalau lupa? Apalageee.. itu lah, kita lupa pesen ke cik kondektur kalau kita mo turun di Hat Yai Bus Terminal. Rupanya bus terminal itu sempat kami lewati ketika memasuki sisi selatan kota menuju pemberhentian Konsortium Bas Ekspres ini. Jadilah pengalaman pertama naik tuk-tuk (kendaraan serupa Bemo tapi dengan sisi kiri dan kanan yang terbuka)!

Ha ha ha… you guys should see tampang Ka Angga waktu itu :D

Hanya berjarak lima menit dan ongkos 20 bath (berempat) naik tuk-tuk, tibalah kami di terminal bus Hat Yai di Chot Witthayakhol Road, near Makro.

Aku langsung didaulat membeli tiket, karena di sini, bahasa asing benar-benar terpakai (maksudku benar-benar ‘asing’ yaa… I can do English, but Thai?). Kami berempat harus membayar 1800 Bath untuk tiket bus dan ferry-ride ke Koh Samui.

Waktu itu masih jam 7 lebih sedikit, bus kami baru akan berangkat jam 8.

Bergantian aku, Dian, Ka Angga dan Bang Ali, ke toilet so much for morning calls I guess… sembari diserbu rasa lapar, kami mengumbar bekal masing-masing di bangku peron dan memesan kopi (yang rasanya aduhai… JAUH). Aku dan Dian sempat tergoda menyicipi mie kemasan yang dijajakan (tapi label PORK aka SAPI KATE membuat kami mendelik)… Bang Ali dan Ka Angga nekad icip rasa yang lain, aku keburu mual.
Have you experienced flag-ceremony? Ya, jaman SD sampai SMA pernah seh… tapi melihatnya dengan mata kepala sendiri, di negeri orang? Yang ini isinya bukan barisan anak sekolah, bahkan tidak ada pasukan ataupun peserta upacara… hanya seorang pembawa sekaligus pengerek bendera ditemani lagu kebangsaan yang menyeruakkan gema-nya seantero terminal. Sumpah, aku terkesima! (And I will still be amazed later on by these people)

Sebelum upacara bendera itu usai, our bus was due to leave… jadi kami tidak sempat mengabadikan persitiwa tersebut.

Sayangnya bus kami kali ini hanyalah setingkat bus antar kota antar propinsi, yang kendati lumayan nyaman, sayangnya berhenti di setiap halte, parahnya lagi ternyata perjalanan kami masih another 6 da** hours!
Di perhentian pertama, aku sempat rada shock… kami benar-benar sudah di Bangkok, dan aku tidak lagi mengenali mereka ketika berbicara, ketika turun kami berusaha mencari makanan – mind you we haven’t had appropriate food since our last supper :( tapi baru sempat foto-foto sambil sight-seeing kondektur bus sudah meminta kami kembali ke dalam bus yang segera melaju; he said we can eat at our next stop.

Hampir jam 1 siang waktu tiba di perhentian kedua, sebuah gas station dengan rumah makan. Ka Angga dan Bang Ali tugasnya cari makanan, aku dan Dian ke toilet – simpan wudlu buat solat nanti. Sekembalinya, kita harus kecewa mendapati ternyata menu utama masakannya SAPI KATE (hu hu hu… sakit ati!).

Tahan deh lapernya!!! (teman-teman, belilah bekal selagi bisa… aku ingat sempat meremehkan bekal seabreg-abreg yang dikasih Uncle Solo si baik hati)

Akhirnya… sampai juga di Dan Sok Pier. Turun dari bus, kami masing-masing diberi tiket ferry. Di canteen pelabuhanlah kami membeli our so-late lunch…

Pelabuhannya ramai namun tetap tertib, hanya ada dua ferry bersandar. Salah satunya yang akan membawa kami ke Koh Samui.

Waktunya makan!! Dan menikmati perjalanan laut tentunya… lagi-lagi photo session ;)

Perjalanan 2 jam tidak terasa, akhirnya we arrived at Nathon Pier, Koh Samui dan hotel kami Moby Dick berada di daerah Chaweng Beach, kira-kira 30 menit dari pelabuhan. Tapi dasar baru pertama kali kita sama sekali buta arah dan ketika aku telpon penginapan, tidak ada yang menjawab, paniklah kita! Hari sudah sore dan awan menggulung tanda hujan semakin dekat…

Dalam kepanikan, handphone Bang Ali (yang hampir limitless sangat berguna, hehe) sangat berguna, I dialed my friend, Matt and asked for his help (since he’s the one recommending this place). He mentioned a place called Green Mango… I uttered that to the driver, dan kami langsung melesat tepat ketika hujan mulai turun.

Taxi yang kami tumpangi pasang argo 400 Bath (untuk kami berempat plus barang). Oya, ada dua macam taxi di sana; satu yang benar-benar bentuknya taxi dan argonya, the other one is sort of like mini van – yang terakhirlah yang kami naiki. Kenapa aku nggak nawar? Karena berdasarkan website penginapan yang aku baca, jika memutuskan naik taxi segitulah rate-nya!

Teman-teman, FYI, sebelumnya aku sudah berhubungan dengan si empunya penginapan bahwa kami akan datang untuk menginap di sana pada tanggal yang ditentukan (meski kami datang telat sehari, itu pun aku sudah sempat mengabarinya ketika masih di KL).

Letak penginapannya cukup strategis dengan kamar yang nyaman (with AC+warm water), tidak berada langsung di jalan utama, namun di kelilingi pub, resto, toko-toko branded, toserba dan penjaja sembarang benda untuk oleh-oleh… not to metion scattered money changer! Walah, mereka memang ke sini untuk menghabiskan uang, hehe…

Demi melepas lelah dan mandi, kami berleha-leha sesaat di kamar, selepas maghrib, kedua bodyguard wanna-be kami itu berinisiatif menyewa motorbike untuk berkeliling kota, hihi, so off we go!

Sebelumnya, kami sempat mendaftarkan diri untuk ikut tour ke Koh Tao dan Koh Nangyuan keesokan paginya, masing-masing kami harus merogoh kocek 1700 Bath (quite pricey for low season).

On the third largest island in Thailand yang terletak di gulf of Thailand ini pun kami harus benar-benar hati-hati memilih makanan, malam pertama itu dalam perjalanan sight-seeing dan upaya mencari makan malam yang layak (mengingat insiden sapi kate) kami terpaksa berakhir di kedai McD, karena sudah lapar ke ubun-ubun, hahaha :D

Melanjutkan perjalanan dengan motor di malam hari sangatlah menyenangkan, banyak yang bisa dijangkau. Setelah lelah muter-muter, kami kembali… aku dan Dian memutuskan beristirahat, entah Ka Angga dan Bang Ali…

Hari 4 (27/4) Esok paginya, kami siap untuk adventure ke Koh Tao dan Koh Nangyuan!

Kami dijemput jam 7.30 pagi, lagi-lagi kedua bos kami telat… telat bangun, telat bersiap-siap, terburu-buru hingga baru sadar kunci kamar nggak ada! AMPUN deh… penjaga hotel meyakinkan hal itu tidak usah dipusingkan, maka kami segera membereskan administrasi tour. Jelas sekali terlihat kalau escort kami mulai kesal, he once asked me where we come from, aku bilang Indonesia… “Aahh, Indonesia! Late!”

Sesampainya kami di pantai kecil yang disulap menjadi pesandaran ferry Tour Service Lomprayah jengkelku sudah hilang. Kami segera mengantri untuk mendaftarkan diri di loket, masing-masing dicek asal penginapan dan jumlah orangnya lalu ditempeli nomor, hihi, kayak mo apa aja ya… plus dipersenjatai dengan perlengkapan snorkel.

Light bfast yang tersedia, a cup of coffee or tea and bread… jet boat yang kami tumpangi keren! Terlihat sangat terawat dan fasilitasnya memadai (and we got free softdrinks), sayangnya kami tetap harus berebutan duduk, ko kayak kenal… kenalpot!

Suasana (lagi-lagi) dipadati dengan bule, wuihiyy… semua dengan pakaian seadanya, I really mean it, guys! Kurang lebih sejam perjalanan, tibalah di Koh Nangyuan, kami yang akan snorkeling dipisahkan untuk naik ke kapal berikutnya… sejenis kapal nelayan yang akan mengantarkan kami ke snorkeling-site Lighthouse.

Di kapal, sambil mendengarkan instruktur menerangkan perjalanan kami dan berapa lama waktu kami nanti di sana (dalam tiga bahasa, please deh jangan harap ada bahasa Indo-nya), semua orang sibuk dengan persiapan snorkel-nya, dari mulai mengolesi sun block sampai mencoba snorkel ataupun foto-foto – kayak kita tuh ;p

Jalan-jalan 10 hari – Why Not (Part1)

May 21, 2009


Well, it’s wasn’t like any of my plans when going overseas on a backpack… but pretty much acceptable.

Hari 1 (24/4)
AK 955 (CGK-KUL) takes off 2.30 PM
Passport √
NPWP √
Print-out ticket √
Cek-in temen2 √


Berhubung ini kali pertama keluar negeri pake NPWP (aka fiscal gratisan), agak bingung juga. Nah, ini tips-nya buat temen2. Usahakan fotokopi NPWP, passport dan KTP di kertas yang sama agar memudahkan pemeriksaan. Jangan lupa bawa kartu NPWP asli kali-kali diminta, en senyum donks sama petugasnya ;)


Akhirnya Tiba Juga Di KL!!!

Mind this, what you first saw during your trip might as well be what you will experience for the whole journey… hihi… Ya, ternyata temen-temen sperjalananku punya kebiasaan pejabat yang datengnya telat, ups, jadi deh kita harus selalu terburu-buru hingga kebiasaan ini berbuah pahit (nanti).

Duduk manis dua jam di dalam pesawat Low-Cost Carrier akhirnya tiba jua di LCCT Kuala Lumpur, Malaysia. Waktu menunjukkan pukul 6 PM (Malaysia time) – jgn lupa cocokin waktu setelah ketibaan yaa… Malaysia itu 1 jam lebih awal loh.

Dari sana, kami dijemput pihak Kedubes RI Malaysia (yg kebetulan senior di HI UNPAD) untuk bermalam di wisma Damai. Tapi untuk temen-temen yang mau menuju ke pusat kota (KL Sentral), bisa naik transit bus yang tiketnya tersedia di pintu ketibaan antar bangsa (International Arrival), harga mulai dari 8 – 9 RM, berangkat setiap 10-15 menit (peronnya dekat Coffee Bean).

There’s not much to see in KL actually, kecuali teman-teman memang niatnya belanja.

Setelah berganti pakaian dan janjian dengan seorang teman dari HC (Hospitality Club), kami pun berangkat menuju daerah Bangsar – known for the hippest part for youngster in KL. We had dinner and then strolled down the street sight-seeing the people, fabulous cars neatly parked, and gorgeous looking people in their best suits – TGIF!

It was past midnite when we returned to Wisma Damai, my senior had waited to welcome us… then we ended up chatting till what’s like 4 AM (Malaysia Time). I even couldn’t remember how I got to bed in first place!

Hari 2 (25/4) The next morning, as we decided to stay one night in KL before continuing our trip to Thailand by land, we went to Genting.

Setelah sarapan, kira-kira jam 10 (Malaysia Time) Pak Nanto, driver, took us to Pasar Rakyat, Bas Terminal, yang letaknya dekat dengan Kedubes RI, daerah Tun Razak. There we found both transport to go to Genting and our next trip – HatYai (the border between Malaysia and Thai). Watta luck! We paid for the bus fare for the night trip to HatYai and took the cab offer 60 RM to go to Genting… the four of us hopped into the car and off we go to Genting Highland :)

Perjalanan ke Genting sekitar satu setengah jam. Sesampainya di sana kami tidak buang-buang waktu, karena harus kembali setidaknya jam 5 sore dari Genting mengejar bus malam kami yang berangkat jam 9 malam dari Bas Terminal Pasar Rakyat.

Rute pulang kami memutuskan untuk naik Bus ke Pasar Rakyat, itung-itung lihat pemandangan baru kan? Untuk turun ke Bas Terminal dari Genting, kami menaiki Skyway, dengan 5 RM/person kami segera terpesona dengan pemandangan sekitar menuruni bukit.

Sesampainya di bawah, kami sudah kehabisan tiket untuk mengejar Bas yang berangkat jam 5 terpaksa kami menunggu Bas berikutnya yang berangkat 30 menit kemudian, momen ini kami pakai (lagi-lagi) untuk foto2, termasuk memanfaatkan ‘tangan’ baru Bang Ali :p (more)

Kira-kira 10 menit sebelum keberangkatan, Bas kami sudah ‘mejeng’ dengan indahnya di Peron yang bertuliskan Pasar Rakyat. Ada banyak rute yang bisa dijangkau dari terminal Bas ini, terlihat pemerintah Malaysia benar-benar mengakomodir perjalanan wisata di daerahnya. Dan perjalanan satu setengah jam itu jauh dari kebosanan, sepanjang jalan pemandangannya dibuka oleh padang luas seperti peternakan kuda, lalu padang hijau, hingga masuk ke jalan-jalan utama. Kalaupun kamu terlalu lelah, bangku-bangku Bas ini didesain sangat nyaman layaknya 2nd class (yg 1st class ceritanya menyusul yaaa..).

L.I.F.E

Apr 14, 2009


Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both…
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
(The Road Not Taken – Robert Frost)



Let's talk about life tonight,
I know it's already past midnite and there is no way anyone wanna hear such crap called L.I.F.E, but I just feel like it.. coz am feeling it having a grand meeting in my abdomen -- and am proud of that!

I just watched GA's 5th Season ed,
A woman died, which is quite natural that someone did. But it crushed her husband, it almost endangered her newly-born child, and it affected a doctor's reputation. The label just then be buried along with her. Whereas on the other case three siblings are fighting over not getting into the OR for the risk of hereditary cancer, because they think the odds for surviving after the surgery is more painful than dying with the disease. Then I came to realise, how ignorant we are sometimes to life, how we think it's a piece of an engagement ring.. when we broke then we toss it off..

Let's talk about life,
Who is familiar with love? the butterfly in our stomach that wont go away even until that amazing person who just smiled at you left.
Who knows how happiness feels like? the melting feeling that cools what's inside your chest and pumps you back alive.
Tell me.. who knows how pain feels? the sensation that crutches you down.
Who is accustomed to jealousy? lousy feeling that blackened even the smartest brain and tear you apart though you feel like wining the game - bummer!
Who has been the object of jealousy? poor creature who doesnt know what to do which to choose whilst the other person pointing finger doesnt give a damn breath to know what it's like to be in one's shoes.
Who doesnt know about anger? burning sensation all over your body -- doctors diagnose you with heart damage for you just nearly resign to breathe or cause someone else with that.

Let's talk about life shall we..
Do you remember to count your breathing? Have you smiled to anyone? Do you think they deserve it? Do you think you deserve all these? Do you think what people think? How many of you said 'grace' for today?

We never talk about life to God,
especially at the loneliest time.. when He meets us in our deepest sleep to share what we attain during the day. The worse case even, we never talk about life to ourselves.. we keep the topic well hidden under our comfortable sheet - pull them up as we jump in to rest our souls. As simple as it may seem, we never really realise what L.I.F.E is.

The four standing out letters are there.. called themselves LIFE,
but never nor any of us really reckon it.. how it grows, what it feeds and how it goes away leaving a body less human. Those letters calling themselves life are there, as we are here, unfortunately we barely know each other -- for it is too painful when it leaves thus we think better off not knowing to minimize risks...

Yes we hardly talk about life,
Thats why I wanna talk about life tonite.. but please dont stop as you stop goin thru this inane note.. talk to your mates, your enemies, your children, your parents, talk to yourself. There is a LIFE out there - d'u hear it callin?

Thailand in Emergency

Apr 11, 2009


Thailand on Saturday cancelled a summit of Asian leaders for security reasons after more than 1,000 anti-government protesters stormed the meeting venue in Pattaya.

The red-shirted protesters, who were demanding the resignation of Thai Prime Abhisit Vejjajiva, smashed through the glass doors of the convention hall in Pattaya and ran through the building, overturning tables, blowing horns and waving Thai flags.

Abhisit Vejjajiva declared a state of emergency in the city and the area surrounding it on Saturday.

"In this case I have used my authority to announce an extreme state of emergency in Pattaya and Chon Buri province," he said.

The state of emergency decree gives the military the right to restore order, allows authorities to suspend civil liberties, bans public gatherings of more than five people and bars the media from reporting news that "causes panic."

Abhisit said the ASEAN, Association of Southeast Asian Nations, summit meeting had been "postponed".

"I have met with other ASEAN leaders and have told them my decision and they all understood the situation," Abhisit said on local television.

The Thai Foreign Ministry said all the ASEAN leaders were safe.

Meanwhile in Bangkok around a hundred protestors went to the Prime Minister's house, the latest in a series of targets in the capital.

Most of the protesters however remained in Pattaya.

Abhisit was appointed by Parliament in December after a court dissolved a government led by Thaksin's allies for election fraud.

The protesters say Abhisit took office illegitimately and should step down so new elections can be held.

The summit, which began Friday morning with a meeting of foreign ministers from the 10-member Association of Southeast Asian Nations, was supposed to swing into action on Saturday when ASEAN leaders were set to meet with counterparts from China, Japan, South Korea.

The meetings was scheduled to conclude on Sunday with the full-fledged East Asia Summit, which also includes India, Australia and New Zealand for a total of 16 nations.


(News Source: APTN, Pic Source: Ben)